Hai..hai...
Balik lg setelah hampir sebulan ga bikin postingan baru. Well, secara masalah lg numpuk2 ni, mana ada waktu buat mikirin ngeblog. Yes, I do have problems. Meski seringnya cerah ceria dan jarang keliatan punya masalah, tp mana ada sih manusia hidup yg ga punya masalah? So, saya sama seperti kalian2 semua, manusia biasa dengan masalah2 dalam hidupnya. Not to mention ma maman lhoh yaw... She's one of the biggest problem. But. I love her....well, sort of like that-lah. hehehe...
So, bulan Mei berawal seperti biasa. Aku bangun, kerja, makan telat, lupa makan, dolan bentar, dll, dst. Yah..biasa2 saja-lah. Terus aku sakit. Bok, kalo sakit gigi tuh ya, harusnya yg sakit gigi kita kan ya? Ini mah, badan meriang, demam, panas, plus gusi bengkak ga bisa mangap. Gimana mau makan kalo begitu ceritanya?? Yah..begitulah derita gigi numbuh. Ga bisa mangap yg berarti ga bisa makan. Udah gitu pasti meriang, demam, dan pusing ikutan nimbrung. Terpaksalah ngibrit ke dokter. Dan krn ga bs makan, ngedrop-lah tekanan darahku. Kembali lg dapat nasehat panjang lebar, makan yg teratur mbak, banyakin makan buah dan sayur, dsb, dll. Dah kayak kambing gini, masih jg disuruh banyakin makan sayur.
And then, simbahku meninggal. Well, I wasn't very sad at that time, I guess it's about her time to go. Semua terlihat normal pada saat itu. Simbahku meninggal pas tidur, sesudah mandi pagi dan sarapan. Dan memang sudah ada tanda2 sebelumnya ( tp kita ga nyadar), jadi kami sudah merelakannya. Akan tetapi, sepertinya keluarga ibuku (simbahku ini ibunya maman, btw) kena kutukan, bahwa kalo ada anggota keluarga yg meninggal maka kami akan kehilangan persaudaraan. Waktu adiknya maman meninggal krn kecelakaan mobil sekeluarga dan cm tinggal 1 sepupuku yg hidup, kita kehilangan persaudaraan dg keluarga besan krn mereka ribut soal harta warisan (nanyain harta warisan sepulang dari pemakaman itu tanda besar ketidakwarasan). Lalu, Pakdheku meninggal jg gr2 rebutan duit sm istrinya. Tampaknya, pensiun dan sakit2an melunturkan janji suci pernikahan. Setelah Pakdheku pensiun dan sakit2an, dipulangkan ke rumah simbahku dan seluruh hartanya diambil, tmsk rumah tabungan pensiun dan uang pensiun bulanan. Dan setelah Pakdheku meninggal pun masih jg ga mau ngurus. Jadi, sepertinya cukup wajar kan kalo kami memutuskan tali persaudaraan.
Last, kemaren pas simbahku. Anak simbahku ini tinggal maman sama mbak tertuanya. Aslinya, simbahku punya rumah sendiri dan Budheku ini numpang tinggal di rumahnya. Tapi, ujung2nya jd ngorot2. 2 tahun terakhir ini simbahku sakit krn udah tua jd udah ga bisa ngapa-ngapain. Sebagai anak yg tinggal serumah, bukannya ngurusin simbahku, yg ada Budheku tiap hari nelponin maman nyuruh ngurusin simbah. Mau pagi jam 6 atopun male jam 11, kalo simbahku mau mandi, buang air ato kepengen apa, maman pasti ditelpon disuruh ngurus. Secara capek bolak-balik, akhirnya simbah dibawa maman ke rumah sampe meninggal. Setelah meninggal, tiap kali Budheku ditanya gimana tata cara tahlilan (krn keluargaku emg ga tahu), selalu jawaban yg keluar adalah "manut". Akhirnya yg ngurus malah Budheku dari bapak (yg sebenernya keluarga Budhe dr maman itu jg krn dia nikah sama mas-nya bapakku). Sepertinya mbaknya maman ini ga berkenan, krn tiba2 2 hari sesudah tahlilan 7hari di rumahku, anaknya bikin tahlilan sendiri. Kalo rumah kita beda kota, ini bisa diterima. Tp, ini cuma berjarak 4 rumah dan pas 7 harian di rumahku Budheku jg datang. Ditanya rencana 40 hari jg tetep bilang "manut". Dan ini bikin maman emosi. Menurutku, dalam keluarga kita emg punya hak utk urun pendapat, tp ada hal2 dmn kita sbg anak ga bisa ikut campur. Dan, urusan macam begini salah satunya. Secara sepupu2ku dr Budheku yg ini tuh biang onar semua (oh, mau masalah apa aja, dr tukang ngambek, maling, nikah krn digerebek massa. *geleng-geleng*), dan semua masalah ini biasanya diselesaiin sm bapak dan mamanku. Sekarang, mereka nyoba kurang ajar.
Kalo aku ditanya definisi orang cerdas, salah satu kriteria org cerdas dariku adalah org yg tidak memancing emosi maman. And I guess she deserves to be angry about this. So, akhir2 ini amat sangat melelahkan secara batin dan emosi, krn harus menenangkan maman. Meskipun sodara2 dari pihak bapak udah banyak urun rembug dan dukungan buat maman, tp tetep aja, yg tinggal serumah perannya lebih besar kan.
Saudara itu penting, tp kalo di hati udah ga bisa dekat, bukannya ikatan persaudaraannya udah longgar. Ikatan saudara itu ga cuma lewat hubungan darah, tp lebih penting lewat ikatan hati. Jika saudara yg punya hubungan darah cuma bisa nyakitin terus, apa kita harus mempertahankan hubungan ini sementara kita bisa bikin ikatan persaudaraan baru lewat ikatan hati?