Kenapa ya, ingatanku tuh payah banget. Ketemu kenalan baru susah inget namanya. Kejadian paling parah waktu sama temennya temenku. Udah ngobrol ngalor-ngidul, becandaan, cela-celaan...ujung2nya nanya,"Eh nama kamu siapa ya? Aku lupa..." huhuhuhu....Jarang sekali aku bisa inget tanggal ulang taun...heheheh...selalu ada reminder idup yg mengingatkan minggu depan ultahnya ini lho...(thanks to FB, I can get online reminder...hahaha..fungsi utama FB adalah mengingatkan tanggal ultah temen2..huahahaha). Aku juga selalu lupa judul novel dan nama tokoh di novel itu. Jalan ceritanya bisa inget detil, tapi sering bgt lupa nama tokoh2nya. Payah deh...Kalo dapat tugas review novel suka keabisan waktu buat ngorek2 ingatan, mencoba mengingat nama tokoh2nya yg tentu saja berakhir sia-sia. Nama event yg kuhadiri pun seringkali kulupakan...Hadoh..hadoh...payah tenan.
Kenapa bisa begitu? Aku pun tak tahu...Apakah aku kekurangan gizi jadi ingatan lemah gini? Kurang ginkgo biloba-kah (bener ga nih nulisnya)? Entahlah....
Kamis, 13 Agustus 2009
Movie Time
Acara sudah lewat seminggu baru bikin postingannya. Halah....kebiasaan deh....So minggu kemaren ada acara Jaff-Netpac (moga2 ini nama acara yg bener).. Festival film Asia tahunan yg diprakarsai oleh Garin Nugroho. Film2 yg ditampilkan sebagian besar adalah film festival dgn tema yg macem2..So, karena aku dan mbakku adalah dua orang yg sedang dalam masa kurang kerjaan dan terjerat euforia acara gratisan, maka berangkatlah kami menonton beberapa filmnya. (cuman nonton 3 filmnya ding....gitu aja kok ya dipamer2in).
Film pertama yg ditonton adalah Good Morning Luang Prabang / Sabai dee Luang Prabang. Cerita film ini sederhana bgt. Seorang fotografer blasteran Laos-Australia ditugaskan memotret daerah Laos. Meski separuh berdarah Laos, dia blom pernah datang ke Laos. Maka, disewalah seorang guide lokal cantik. Selanjutnya, biasa, mereka jatuh cinta. Yang menarik adalah settingnya. Orang awam pasti ga punya bayangan negara Laos itu kayak apa. Dari film ini sepertinya Laos menawarkan pemandangan alam yg masih murni. Sungguh, aku pengen kesana satu hari nanti. Pulau2 di delta sungai Mekong (semoga tak salah sebut) sepertinya menarik untuk dikunjungi...Aktornya, good looking. search some information bout him, turns out dia emang blasteran Australia-Laos dan bapaknya adalah fotografer..sepertinya karakternya mirip bgt dg kehidupan nyatanya.
Dua hari selanjutnya, berangkatlah kami menonton 2 film lainnya. Kali ini adalah film dari Palestina. Yang pertama berjudul Wedding in Galilee. Bercerita soal pernikahan orang Palestina di daerah kekuasaan Israel. Lebih parah lagi, desa itu adalah daerah para ekstremis. Ijin pernikahan tak diberikan penguasa Israel. Tapi ada pengecualian dengan syarat para pejabat Israel diundang. Film ini menampilkan tradisi pernikahan di Timur Tengah (yg sungguh kusyukuri tradisi pernikahan orang Jawa tidak seperti tradisi ini).
Film ketiga, ni rada aneh ceritanya. Berjudul Tale of the Three Jewels. Ceritanya menyorot kehidupan pengungsi Palestina. Seorang anak yg jatuh cinta pada gadis gypsi dan berusaha mendapatkan kalung untuk bisa menikahinya.
Sabtu berencana menonton lagi, tapi kok badanku tenyor....payah..udah KO aja deh.. Ya sudah cuma 3 film itu yg sempat kutonton. Itung2 ngicipi festival film ini. See you next year Jaff-Netpac!
Film pertama yg ditonton adalah Good Morning Luang Prabang / Sabai dee Luang Prabang. Cerita film ini sederhana bgt. Seorang fotografer blasteran Laos-Australia ditugaskan memotret daerah Laos. Meski separuh berdarah Laos, dia blom pernah datang ke Laos. Maka, disewalah seorang guide lokal cantik. Selanjutnya, biasa, mereka jatuh cinta. Yang menarik adalah settingnya. Orang awam pasti ga punya bayangan negara Laos itu kayak apa. Dari film ini sepertinya Laos menawarkan pemandangan alam yg masih murni. Sungguh, aku pengen kesana satu hari nanti. Pulau2 di delta sungai Mekong (semoga tak salah sebut) sepertinya menarik untuk dikunjungi...Aktornya, good looking. search some information bout him, turns out dia emang blasteran Australia-Laos dan bapaknya adalah fotografer..sepertinya karakternya mirip bgt dg kehidupan nyatanya.
Dua hari selanjutnya, berangkatlah kami menonton 2 film lainnya. Kali ini adalah film dari Palestina. Yang pertama berjudul Wedding in Galilee. Bercerita soal pernikahan orang Palestina di daerah kekuasaan Israel. Lebih parah lagi, desa itu adalah daerah para ekstremis. Ijin pernikahan tak diberikan penguasa Israel. Tapi ada pengecualian dengan syarat para pejabat Israel diundang. Film ini menampilkan tradisi pernikahan di Timur Tengah (yg sungguh kusyukuri tradisi pernikahan orang Jawa tidak seperti tradisi ini).
Film ketiga, ni rada aneh ceritanya. Berjudul Tale of the Three Jewels. Ceritanya menyorot kehidupan pengungsi Palestina. Seorang anak yg jatuh cinta pada gadis gypsi dan berusaha mendapatkan kalung untuk bisa menikahinya.
Sabtu berencana menonton lagi, tapi kok badanku tenyor....payah..udah KO aja deh.. Ya sudah cuma 3 film itu yg sempat kutonton. Itung2 ngicipi festival film ini. See you next year Jaff-Netpac!
Ibuku Ga Suka Dibujuk, Sukanya Diancam....
Kadang kalo pikiran lagi suntuk, bete, frustrasi, stress ato apalah namanya, perut kita ikutan ngambek. Maunya cuman makan makanan tertentu. Misalnya kalo mendadak banyak job bikin review soal website yg aneh2 (contoh: website utk sex chat...ugh!!!!damn these sites!!!!), mendadak jd butuh es krim buat ngademin pikiran yg suntuk. Tapi, kalo di rumah keinginan2 duniawi ini pasti terganjal di satu orang. Ibuku itu.
Entah kenapa kalo kita nih anak2nya pengen makan di luar, ibuku pasti melarang dengan sindiran. Kita nih udah biasa dapat komentar gini,"Ah kalo cuman gini sih, masak sendiri lebih enak!" ato, "Ga enak ah masakan warung situ, bumbunya ga mateng!", yang kemudian dilanjutkan dgn, "Mending duitnya dipake buat masak sendiri. Tar tak masakin." Cuman, TAR yg harusnya bermakna SEBENTAR, pelaksanaannya bisa tar kalo kita dah lupa.
So, beberapa hari belakangan ini aku dan mbakku diserang rasa kepengen yg teramat sangat untuk mencicipi bebek goreng. Karena bebek tmsk unggas yg kolesterolnya tinggi, ibuku mulai melancarkan jurus2 mautnya untuk melarang kami membeli makanan ini. Sebagai anak yg tidak baik dan anak muda yg tak suka dilarang2, jengkel dong....Enak aja, kita mo beli pake duit sendiri, berbaik hati nawarin buat beliin mlh dilarang2. Akhirnya aku bilang, "Oke, ibu ga mau ya udah. Ga usah dibeliin dah tar. Kita tetep mo beli."
Dan tanggepannya ibuku, "Ya aku tetep mau dibeliin lah..."
Jadi, harus pake diancam dulu baru berhenti ya, nglarang-nglarangnya...
PS. Apakah aku anak yg durhaka krn bakalan harus sering2 mengancam ibuku?
Entah kenapa kalo kita nih anak2nya pengen makan di luar, ibuku pasti melarang dengan sindiran. Kita nih udah biasa dapat komentar gini,"Ah kalo cuman gini sih, masak sendiri lebih enak!" ato, "Ga enak ah masakan warung situ, bumbunya ga mateng!", yang kemudian dilanjutkan dgn, "Mending duitnya dipake buat masak sendiri. Tar tak masakin." Cuman, TAR yg harusnya bermakna SEBENTAR, pelaksanaannya bisa tar kalo kita dah lupa.
So, beberapa hari belakangan ini aku dan mbakku diserang rasa kepengen yg teramat sangat untuk mencicipi bebek goreng. Karena bebek tmsk unggas yg kolesterolnya tinggi, ibuku mulai melancarkan jurus2 mautnya untuk melarang kami membeli makanan ini. Sebagai anak yg tidak baik dan anak muda yg tak suka dilarang2, jengkel dong....Enak aja, kita mo beli pake duit sendiri, berbaik hati nawarin buat beliin mlh dilarang2. Akhirnya aku bilang, "Oke, ibu ga mau ya udah. Ga usah dibeliin dah tar. Kita tetep mo beli."
Dan tanggepannya ibuku, "Ya aku tetep mau dibeliin lah..."
-sing......-
Jadi, harus pake diancam dulu baru berhenti ya, nglarang-nglarangnya...
PS. Apakah aku anak yg durhaka krn bakalan harus sering2 mengancam ibuku?
Rabu, 12 Agustus 2009
Pictures of "Maestro"
Berikut ini foto-foto dari Gelar Tari Maestro...fotonya rada mengecewakan sih...blur...ga fokus....maklum cuman pake kamera saku. Makanya cuma dikit yg bisa ditampilkan disini.
Sabtu, 08 Agustus 2009
Pagelaran Tari "Maestro"
Oke, ini saatnya buat tontonan yg berbeda dari biasanya. Kalo biasanya nonton yang klasik-klasik dari negara asing, sekarang saatnya nonton tontonan klasik dari negara sendiri. Kali ini adalah pagelaran tari "Maestro". Judulnya aja udah jelas banget, pagelaran kali ini memang menampilkan karya-karya dari maestro tari Jogja. Para maestro ini adalah Wisnoe Wardhana, Romo Sas, dan Bagong Kussudiardjo. Orang kebanyakan mungkin cuma mengenal nama Bagong Kussudiarjo, itupun aku curiga bukan karena karya2 tarinya tapi krn anak2nya, Butet dan Djaduk. Tapi, 2 dua nama yg sebelumnya sebenarnya punya peran teramat besar dalam dunia tari.
Seperti biasa, publikasi acara ini ga terlalu kenceng, kalo ga bisa dibilang minim. Tapi, herannya kok ya penuh ya gedung yg berkapasitas 600 orang ini. Mungkin ini bukti nyata keefektifan publikasi mulut ke mulut, ato aku aja yg ga main-main ke tempat publikasinya disebar. Aku dateng jam 7 karena mengira kalo acara mulai jam 7.30, dan ternyata aku salah...di baliho tertulis acara dimulai jam 19.00. Wadow...pantesan udah penuh aja nih...TAPI...biasa nih....mentang-mentang acara gratisan terus panitia molor-molorin acara semaunya. Ditulis acara mulai jam 19.00, kenyataannya baru jam 19.30 pintu dibuka dan acara baru beneran dimulai jam 19.45-an. Yah...aku ga tau harus mengeluh ato berterima kasih atas keterlambatan ini, secara aku datangnya ngepas, kalo acara on time malahan telat.
Acara dimulai dengan penayangan video singkat tentang masing-masing maestro. Diawali dengan video tentang Wisnoe Wardhana, lanjut ke Romo Sas, diakhiri oleh Bagong Kussudiarjo. Saat penayangan aku baru sadar kalo ternyata sanggar ketiga maestro ini letaknya deket rumahku, tapi ga pernah main-main kesana juga...
Wisnoe Wardhana
Pagelaran ini menampilkan 3 karya beliau, Nada Irama, Manusia Bahagia, dan satu lagi aku lupa judulnya (*_*). Beliau ini sering dianggap sebagai maestro tari dg latar belakang tari ballet. Meskipun beliaunya sendiri menganggap karyanya berlatar modern dance. Dan memang terasa sekali kemodern-annya. Tarian pertama ditarikan oleh istrinya sendiri. Menurutku sih.....rada kurang luwes. Faktor usia mungkin yah. Walo kemungkinan besar di usia yg sama di kemudian hari, aku ga bakalan bisa menari seperti ibu ini.
Romo Sas
Kalo kalian tidak mengenal nama ini, berarti kalian ga tau tari klasik Jawa gaya Yogyakarta. Beliau ini adalah pakarnya tari klasik Jawa gaya Yogyakarta. Sepertinya semua penari Kraton adalah muridnya, termasuk putri2 Sri Sultan HB X sendiri sepertinya. Meskipun penari klasik, Romo Sas berusaha menghantar tari klasik ke era modern, salah satunya dg menyederhanakan tari Bedhaya yg seharusnya berdurasi sampe 2 jam jadi cuman 30 menit. Well, Bedhaya adalah salah satu masterpiece tari klasik Jawa, tapi kalo sampe 2 jam, jelas penonton di era modern (apalagi anak-anak gaul tuh) bakalan molor di tempat deh pas nontonnya. Pagelaran ini menampilkan 2 karya Romo Sas, yg satu tari tentang membatik dan satunya, jelas Bedhaya ini. Asyik dah..tari ini, walo lama, tapi tetep menarik buatku. Ada 9 penari cantik di panggung tuh kayak magnet kuat yg bikin susah kedip..walo jujur..aku nguap beberapa kali (udah malem juga tuh) tapi asyik banget deh nontonnya.
Bagong Kussudiarjo
Bagong dikenal sebagai seniman komplit. Tari jago, koreografer ya bisa, melukis yo ho-oh. Pantesan aja, anak-anaknya jadi seniman andal. Dikenal dengan karya-karya yg berlatar tari klasik lalu digubah ulang sesuai pemikiran beliau (tolong dikoreksi dan dimaafkan kalo saya salah ngomong, ya. ^_^). Maka karya yg ditampilkan adalah Bedhaya Gendheng. Sama seperti Romo Sas, Bagong juga membuat karya yg berasal dari tari Bedhaya (See...ini memang masterpiece tari klasik Jawa kan). Cuman kalo Romo Sas menyederhanakannya, Bagong mengubahnya sebagai ekspresi jiwanya terhadap dunia yg sudah kehilangan tatanannya (Stt...tatanan bahasa Inggrisnya apaan yah?). Hasilnya...beda banget. Bener-bener seperti tarian baru. Masih ada 9 penari cantik di panggung. Tapi dengan kostum dan gerakan yg berbeda, ini membuat nuansa berbeda dari tarian ini.
So, demikianlah pagelaran tari "Maestro"ini. Diakhiri dengan pidato singkat dari pimpinan Taman Budaya Yogyakarta. Singkat, padat dan menjanjikan pagelaran maestro di tahun2 mendatang (Wait and see aja-lah). Lalu dilanjut pidato singkat dari istri Wisnoe Wardhana dan Romo Sas, juga dari Djaduk Ferianto (yg datang dengan memakai tas Computa besar, hahahaha..abis belanja komputer, ngiklan, ato gokil2an aja ya?). Dan acara pun berakhir...
Seperti biasa, publikasi acara ini ga terlalu kenceng, kalo ga bisa dibilang minim. Tapi, herannya kok ya penuh ya gedung yg berkapasitas 600 orang ini. Mungkin ini bukti nyata keefektifan publikasi mulut ke mulut, ato aku aja yg ga main-main ke tempat publikasinya disebar. Aku dateng jam 7 karena mengira kalo acara mulai jam 7.30, dan ternyata aku salah...di baliho tertulis acara dimulai jam 19.00. Wadow...pantesan udah penuh aja nih...TAPI...biasa nih....mentang-mentang acara gratisan terus panitia molor-molorin acara semaunya. Ditulis acara mulai jam 19.00, kenyataannya baru jam 19.30 pintu dibuka dan acara baru beneran dimulai jam 19.45-an. Yah...aku ga tau harus mengeluh ato berterima kasih atas keterlambatan ini, secara aku datangnya ngepas, kalo acara on time malahan telat.
Acara dimulai dengan penayangan video singkat tentang masing-masing maestro. Diawali dengan video tentang Wisnoe Wardhana, lanjut ke Romo Sas, diakhiri oleh Bagong Kussudiarjo. Saat penayangan aku baru sadar kalo ternyata sanggar ketiga maestro ini letaknya deket rumahku, tapi ga pernah main-main kesana juga...
Wisnoe Wardhana
Pagelaran ini menampilkan 3 karya beliau, Nada Irama, Manusia Bahagia, dan satu lagi aku lupa judulnya (*_*). Beliau ini sering dianggap sebagai maestro tari dg latar belakang tari ballet. Meskipun beliaunya sendiri menganggap karyanya berlatar modern dance. Dan memang terasa sekali kemodern-annya. Tarian pertama ditarikan oleh istrinya sendiri. Menurutku sih.....rada kurang luwes. Faktor usia mungkin yah. Walo kemungkinan besar di usia yg sama di kemudian hari, aku ga bakalan bisa menari seperti ibu ini.
Romo Sas
Kalo kalian tidak mengenal nama ini, berarti kalian ga tau tari klasik Jawa gaya Yogyakarta. Beliau ini adalah pakarnya tari klasik Jawa gaya Yogyakarta. Sepertinya semua penari Kraton adalah muridnya, termasuk putri2 Sri Sultan HB X sendiri sepertinya. Meskipun penari klasik, Romo Sas berusaha menghantar tari klasik ke era modern, salah satunya dg menyederhanakan tari Bedhaya yg seharusnya berdurasi sampe 2 jam jadi cuman 30 menit. Well, Bedhaya adalah salah satu masterpiece tari klasik Jawa, tapi kalo sampe 2 jam, jelas penonton di era modern (apalagi anak-anak gaul tuh) bakalan molor di tempat deh pas nontonnya. Pagelaran ini menampilkan 2 karya Romo Sas, yg satu tari tentang membatik dan satunya, jelas Bedhaya ini. Asyik dah..tari ini, walo lama, tapi tetep menarik buatku. Ada 9 penari cantik di panggung tuh kayak magnet kuat yg bikin susah kedip..walo jujur..aku nguap beberapa kali (udah malem juga tuh) tapi asyik banget deh nontonnya.
Bagong Kussudiarjo
Bagong dikenal sebagai seniman komplit. Tari jago, koreografer ya bisa, melukis yo ho-oh. Pantesan aja, anak-anaknya jadi seniman andal. Dikenal dengan karya-karya yg berlatar tari klasik lalu digubah ulang sesuai pemikiran beliau (tolong dikoreksi dan dimaafkan kalo saya salah ngomong, ya. ^_^). Maka karya yg ditampilkan adalah Bedhaya Gendheng. Sama seperti Romo Sas, Bagong juga membuat karya yg berasal dari tari Bedhaya (See...ini memang masterpiece tari klasik Jawa kan). Cuman kalo Romo Sas menyederhanakannya, Bagong mengubahnya sebagai ekspresi jiwanya terhadap dunia yg sudah kehilangan tatanannya (Stt...tatanan bahasa Inggrisnya apaan yah?). Hasilnya...beda banget. Bener-bener seperti tarian baru. Masih ada 9 penari cantik di panggung. Tapi dengan kostum dan gerakan yg berbeda, ini membuat nuansa berbeda dari tarian ini.
So, demikianlah pagelaran tari "Maestro"ini. Diakhiri dengan pidato singkat dari pimpinan Taman Budaya Yogyakarta. Singkat, padat dan menjanjikan pagelaran maestro di tahun2 mendatang (Wait and see aja-lah). Lalu dilanjut pidato singkat dari istri Wisnoe Wardhana dan Romo Sas, juga dari Djaduk Ferianto (yg datang dengan memakai tas Computa besar, hahahaha..abis belanja komputer, ngiklan, ato gokil2an aja ya?). Dan acara pun berakhir...
Kamis, 06 Agustus 2009
Sibuknya diriku
Enaknya tinggal di Jogja adalah...banyak tontonan bagus yg harga tiketnya murah ato malah gretongan......huhuhuhu....aku cinta kata murah. Dari awal aku bikin ni blog kan udah banyak postingan ttg aku nonton ini-itu, macem2. Tiket termahal dari semua tontonan itu adalah tiket Unforgettable Keroncong dan jazz Denise Jannah seharga SEPULUH RIBU saja, sementara lainnya adalah GRATIS. Enak kan?..
Jadi dari pertangahan bulan kemaren (Juli) aku udah nonton macem2 acara non stop. Kalo diurutin sih:
Jadi dari pertangahan bulan kemaren (Juli) aku udah nonton macem2 acara non stop. Kalo diurutin sih:
- 3 hari nonton Yogyakarta Gamelan Festival
- nonton pagelaran tari yg tnyt uji coba kontingen Taman Budaya Yogyakarta sebelum berangkat ke festival Taman Budaya se-Indonesia (yg ini belum bikin postingannya...hehehe)
- nonton jazz Denise Jannah
- lanjut ke Unforgettable Keroncong
- trus ke Pekan Budaya Rusia selama 2 hari berturut-turut
- nonton Harpot di Empire (aku salah...ini tontonan termahal....hihihihi)
- dan semalam nonton film di Netpac-Jaff yg masih bakalan berlanjut sampe besok sabtu.
- tar malem nonton pagelaran tari Maestro kalo emg gratis dan dpt tiket. kalo ga yg ngeloyor aja ke gedung sebelahnya, nonton festival film Netpac-Jaff. sama2 gratisan gitu
- jumat nonton film di Netpac-Jaff
- sabtu kemungkinan sih mantengin film di Netpac-Jaff lagi
- minggu kesempatan buat rehat sejenak
- senin mo nonton Public Enemy (sudah gatal pengen nonton film ini)
- selasa nonton UP (yah..ato dibalik jg gapapa deh, senin nonton UP, selasa nonton Public Enemy)
Rabu, 05 Agustus 2009
Maman....lagi...
Siang ini ibuku ngasih makan anjingku. Ngomongnya itu lho.....
Ibuku : Len, ni maemnya..(sambil naruh makanannya ke piring anjing).....Enak to......
Masih bertanya-tanya....apakah ibuku tuh nyicipin makanan anjingku dulu sampe bisa ngomong kalo makanannya enak, ya?....
Ibuku : Len, ni maemnya..(sambil naruh makanannya ke piring anjing).....Enak to......
Masih bertanya-tanya....apakah ibuku tuh nyicipin makanan anjingku dulu sampe bisa ngomong kalo makanannya enak, ya?....
Langganan:
Postingan (Atom)