Kali ini aku pengen ngomentarin pertelevisian di Indonesia. Kenapa? Karena jujur, aku amat sangat suka televisi. Buatku, TV itu keajaiban kecil yang bisa menyentuh siapa aja. Tiap rumah pasti ada TV kan? Di rumahku aja ada 3 TV, tp kalo nonton tetep aja milih barengan dan rebutan mau nonton stasiun TV yg beda2. Menurutku, TV itu adalah alat ajaib yg bisa mendidik penontonnya. Tapi sayangnya, di Indonesia ini pemilik stasiun TV tidak berniat mendidik penontonnya. Di rumah, adegan yg selalu terulang adalah aku dan si Maman rebutan TV, aku dengan tayangan film-film luar dan Maman dengan sinetron-sinetronnya. Yup, sinetron.
Dari belasan stasiun TV nasional yang ada, yang menguasai rating pastilah sinetron. Berpuluh-puluh judul dengan wajah pemeran yang berganti-ganti tapi ceritanya sama dan berulang terus. Kalo diurutin pasti kisahnya sama, cinta ala Cinderella dimana ada pasangan dari kelas sosial yg berbeda, cerita anak yang ketuker, poligami, dan pasti melibatkan sakit amnesia. Dan yang lebih parah adalah ceritanya ditulis tanpa akhir. Yang artinya, baru setelah turunnya rating sinetron itu bakalan diakhiri. Dan misteri terbesar dalam industri sinetron Indonesia adalah kapan Cinta Fitri akan berakhir. D’oohhh.... Bosan ga sih? Beda banget dengan serial2 luar negeri yang cerita beragam dan lebih berani. Dan yang pasti, jelas endingnya kapan. Kenyataan ini agak memupus kecintaanku pada TV Indonesia. Saat TV seharusnya digunakan sebagai alat untuk membantu masyarakat mengakses informasi penting dan memperoleh sedikit pendidikan, TV justru digunakan sebagai alat menyebarkan hiburan yang tidak sehat. Gimana mau cerdas kalo tontonannya sinetron rebutan cowok ato legenda2an ga jelas?
Kita juga masih punya stasiun TV berita yang bebas dari sinetron yg tidak menyehatkan itu. Tapi kok hasilnya, beritanya kok disampaikan dengan gaya liputan gosip ya? Kalo ada wawancara narasumber contohnya, terasa sekali kalo reporter/pewawancara sudah punya satu kesimpulan sendiri dan berusaha menggiring narasumber untuk mengiyakan kesimpulan tsb. Oh, tapi ini masih lebih baik daripada..........merekayasa berita. Tau kan yang kumaksud? Dan karena minggu2 belakangan ini sedang ramai diberitakan soal bencana di daerahku, semakin menjadi2 pula kengawuran para reporter berita ini. Yang satu ngasih liputan langsung dari ruang gawat darurat, mewawancarai ibu2 yg anak balitanya barusan dinyatakan meninggal, dan merekam gambar tenaga medis sedang melakukan CPR dan pertolongan medis lainnya. Satu hal yang muncul di pikiranku, tayangan ini butuh sensor tingkat tinggi dan reporter dan produser acaranya perlu belajar etika penyiaran. Mana ada etikanya mewawancarain orang yang baru saja kehilangan anaknya dan ini masih dalam hitungan menit!!! Apalagi siaran tentang penanganan pasien. Setahuku, media walaupun itu berita dan sebebas apapun, tetap ada aturan penyiarannya, seperti tidak boleh menampilkan foto tersangka ato korban tanpa di blur. Menampilkan prosedure medis semacam itu, kalo tidak melanggar etika yang pasti mengganggu kerja dokter. Kalo entar pasiennya ga bisa tertolong, reporternya bisa ikut menanggung beban dosanya tuh!
Nah, yang di stasiun satunya juga sama parahnya. Lebay puol!! Bagaimana mungkin menyiarkan sesuatu yg berdasarkan analisis pribadi dan amat sangat ngawur bisa disiarkan dan disebut sebagai berita?? Yak, yang saya maksud yang itu, yang ngobral janji terdepan-terdepan itu.... Heran banget, bisa ga sih ngrekrut reporter yang tampilannya tenang, ga perlu sok provokatif dan mencecar, tapi isi beritanya fakta yang benar?? Haruskah mengirim reporter kacrut yg cm bisa teriak2 dan bikin kepanikan warga? Katanya berita tapi malah meresahkan. Intinya, bukan tontonan yang mendukung kesehatan jiwa dan emosi saya.
Kalo liat siaran TV lokal yang isinya gitu2, memang bikin patah hati sih. Jangan salahkan saya kalo beralih ke serial2 impor, mau Asia ato Hollywood. Walo sebenernya masih berharap ada PH, produser, sutradara, dan penulis skenario yang mau konsisten kerja sama untuk membuat tontonan TV yang sudah memiliki ending tanpa adanya niatan utk memulurkan episode. Ataukah saya masih harus tidur lebih lama untuk meneruskan mimpi saya ini??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar