Sabtu, 05 September 2009

Otakku, kenapa kau membiarkan saja tanganku melepaskan lembaran2 uang itu?

Warning: sebaiknya tidak keluar rumah, apalagi MENDEKATI toko di minggu2 pertama awal bulan!!! Kenapa?? Boros nyiiaaaaahhhhhh!!!!!!!
Setelah di penghujung bulan kemaren aku cuma bisa merutuki nasibku sebagai orang yg susyeh mengontrol pengeluaran, aku bertekad, bulan ini aku harus bisa mengerem nafsu berhedon-hedon ria. Tapi, belum juga minggu pertama berlalu, aku harus menghadapi kenyataan. Aku GAGAL sodara-sodara sebangsa dan setanah aer!!!!
Hari ini, belum juga aku atur posisi duduk di depan laptop, mbakku udah ngoceh soal rencananya utk cari kaos ke Mirota Batik. Godaaan!!!! Sudah pasti aku ditarik untuk menemaninya ke toko penuh godaan tersebut. Perasaan udah ga enak aja dari rumah. Bawaan mo ngomel mulu. Siapa yg ga ngomel2 kalo berniat suci murni seharum melati untuk berhemat malah dimintain ke toko. Udah gitu, sebagai orang yg berstatus MENEMANI aku justru harus boncengin mbakku ke sana. Belum juga masuk ke toko udah harus ngadepin tukang parkir yg cerewet cuman gara2 motorku ga sengaja kekunci setangnya. Buseettt...bukannya cerewet tuh jatahnya emak2 yah??
Kesalahan terbesarku adalah memasuki Mirota Batik, toko sejuta godaan, dengan emosi tegangan tinggi. Sudah, menyerahlah saya. Begitu masuk, tertemukanlah sederet rok2 batik dengan rajutan benang putih di kerah dan lengannya. Yang seakan menambahkan bensin ke bara api adalah harganya. Rok2 yg tengah menunggu utk diadopsi ini cuma seharga Rp 31.500,-!!!! Kalap abeeeiiiisssss!!!!!!!!
Naik ke lantai dua, bukannya nafsu belanja teredam, justru semakin membara, menjadi-jadi. Liat pernak-pernik aksesoris lagi di tambahi stok baru. Huaa....sudah, secara resmi saya nyatakan bahwa saya lepas kontrol. Bertambahlah 2 anting baru ke koleksiku. Maaf otakku, sepertinya nafsu belanjaku kembali mengkhianatimu.
Abis ke Mirota Batik masih mampir pula aku ke Ramai dan belanja per-sabun-an untuk kebutuhan sehari2. Trus mbakku beli H*** Javacinno dua karton gr2 ada hadiah mugnya. Dan tebak, yg satu karton akulah yg menanggunggnya. Duh, untung model iklannya ganteng. Lumayan meredam perih hati ini yg teriris sembilu bernama kuitansi belanja. Trus sempet pula mampir makan alias nambah pengeluaran. Untung tidak sedang dalam tekana batin yg membelokkan langkah kami ke kafe.
Dan sekarang, disinilah aku. Di sudut kamar. Merenungi nasib. Kenapa?? oh Kenapa?? Kenapa aku tak bisa berhemat?????

Tidak ada komentar:

Posting Komentar